Senin, 11 Agustus 2008

komen

Peterpan Rilis Album Terakhir


Gambar
Peterpan (eby/hot)
Jakarta Peterpan kembali menelurkan karya terbarunya. Album ke-5 yang bertajuk 'Sebuah Nama, Sebuah Cerita 2002-2008' ini dipastikan akan menjadi album terakhir Peterpan.

Eit, bagi fans Peterpan jangan bersedih dulu. Album ini memang album terakhir, namun album terakhir Ariel cs memakai nama Peterpan. Karena mulai tahun depan band asal Bandung itu dipastikan berganti nama.

"Seharusnya ini terakhir, karena kontrak 1 album lagi, ya belum. Tapi bukan berarti kita berpisah. Ini adalah awal dari akhir, tahun depan kita ganti nama," jelas sang gitaris, Uki saat ditemui di launching album Peterpan di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Jumat (8/8/2008).

Di album terbaru Peterpan kali ini bisa disebut sebagai album 'The Best' karena sebagian besar berisi lagu lama. Hanya 4 lagu baru dari 21 lagu yang dikemas dalam 2 CD.

Album ini, kata Ariel, bercerita tentang perjalanan Peterpan dari album pertama. Dapat dikatakan album ini sebagai biografi Peterpan yang dipersembahkan untuk pendengarnya.

Lalu apa nama barunya? "Belum ada. Kalau udah ada, yang pasti nggak akan nyerempet (dari nama Peterpan-red)," aku Ariel.(ebi/yla)

Komentar terkini (13 Komentar)

Jumat, 11 Juli 2008

biografy

kisah hidup ini berawal dari sejak lahir. kisah disekolah memang menyenangkan penuh tawa dan canda ,tangis ,suka dan duka menghias kehidupanku. sejak SD, SMP, terakhir hari ini SMA tanggal sabtu,12 juli 2008. sungguh ironis bukan keceriaan yang kurasakan kan hilang begitu saja dipenghujung status siswa SMANELL.

tak banyak kisahku di skolah ini hanya mungkin hanyabeberapa saja. kisah cinta yang kandas slalu tak menyulutkan ku untuk patah hati karena sepengalaman ku ketika cinta hilang maka akan muncul cinta yang baru" cinta kana datang silih berganti tanpa bisa diramalkan" itulah prinsipku ga akan ceble meski cinta kiadang pergi jauh meninggalkan kita. mungkin inilah dilaema ketika menjadi seorang siswa.

HAL yang kutakutkan adalah menjadi orang dewaa yang akan hilang keceriaan dan diganti oleh pendewasaan yang banyak romantika kehidupan bisa anda bayangkan

Minggu, 06 Juli 2008

lagu peterpan 'walau habis terang'

walau habis terang- peterpan

http://www.iring808.com/newsimage/2007/11/29/228/peterpan200.jpg

Ku terbiasa tersenyum tenang
walau aargh…
hatiku menangis

Kaulah cerita
tertulis dengan pasti
selamanya dalam pikiranku

Lupakan semua
tinggalkan ini
Ku kan tenang
dan kau kan pergi

Berjalanlah walau habis terang
Ambil cahaya cinta kuterangi jalanmu

Di antara beribu lainnya
kau tetap..
kau tetap..
kau tetap..
benderang
O.. oo~



Yang Cerah' PETERPAN Masuk Masa Disolasi
DALAM BAHASA filsafat, ada satu periode masa-masa kegelapan yang disebut 'disolasi' [kegelapan]. Pada masa itu, nyaris semua karya sastra terlihat suram dan rada gothic. Kata-katanya murung, suasananya pun terlihat seperti kesedihan dan keluhan yang berkepanjangan. Dan meski masih terdengar rancak, band asal Bandung, PETERPAN mendelegasikan perasaan itu.

"Ya kita memang sedang dilingkupi banyak persoalan ketika menggarap album ini, Jadinya, apa yang kita rasakan tertuang dalam kebanyakan lirik di album baru ini," jelas Ariel [vokalis] yang bareng Reza [drum], Uki [gitar] dan Uki [gitar] diwawancara khusus TEMBANG.com di Kantor Musica Studio, Jakarta, Rabu [27/6/2007] lalu.

Ariel membeber permasalahan yang "mengikuti" album ketiga yang diberi judul 'HARI YANG CERAH' ini. "Pertama, kami banyak difitnah. Kemudian, kami punya beban album ketiga ini harus menjadi evolusi baru dari PETERPAN. Hasilnya, lirik-lirik kita, muncul dari tekanan yang negatif," papar pemilik nama asli Nazril Irham ini. Untungnya, tekanan negatif itu tak selamanya buruk. "Akhirnya malah memacu kita untuk memberikan sesuatu yang benar-benar baru di album baru ini," tambah Reza menyahut.

kalau diperhatikan, album yang kovernya didominasi warna merah ini, memang memberikan aroma baru dari sisi musikalitas. "Memang ini seperti merasakan nuansa baru. Ada player baru, drum baru, sound-sound yang kita mainkan juga baru," celetuk Uki. Pasalnya, pasca hilangnya dua personil, Andhika dan Indra [yang kemudian membentuk The TITANS], personil tersisa sepakat untuk album baru harus memberikan perbedaan yang dapat dirasakan. "Kita nggak mau ngulang yang sudah kita lakukan di album sebelumnya," tandas Ariel.

Meski lirik-liriknya terasa lebih dramatis, tapi dari sisi musikalitas, album 'HARI YANG CERAH' ini terasa lebih smooth. "Kita memang lebh berhati-hati dalam penggarapannya," samber Loekman yang nimbrung bicara. Selain itu, penggarapannya juga lebih ribet karena mereka ingin mendapat aransemen yang benar-benar berbeda. "Lagu Dibalik Awan misalnya. Kita sampai bikin 5 versi dengan aransemen yang berbeda-beda. yang beda dari lima aransemen itu lebih pada ketukan, dan sound sampai akhirnya kepilih yang masuk di album ini," terang Reza yang dipuji rekan-rekannya karena ketuka drumnya terdengar lebih "beradab" [istilah personil lain].

Soal lirik, Ariel mengakui "tekanan" yang dirasakannya memang cukup berat. "kalau sudah begitu, biasanya aku jalan aja. Anak-anak lain berkutat di studio aku bisa jalan sampai tiga hari untuk cari lirik yang pas," terang ayah satu anak ini kalem. Soal lirik yang secara semantik "berantakan" Ariel tidak menampiknya. "Aku sadar soal itu, tapi aku memang sengaja melakukan itu karena pingin setiap lagu PETERPAN itu punya hook yang bakal diingat lama dan jadi ciri kita," kilah suami dari Sarah Amalia ini semangat.

Ketika album 'HARI YANG CERAH' ini kelar, ada perasaan yang bercampur aduk dirasakan personil PETERPAN. "Puas, karena dengan waktu yang relatif singkat, materi lagu kita rampung dan bisa rilis. Tapi secara mixingan, sebenarnya kita belum terlalu puas," kilah Reza. Ada beberapa lagu yang diberi catatan khusus oleh anak-anak asal Bandung ini. "Lagu Cobalah Mengerti menjadi lagu yang paling susah, karena suaraku harus direndahin karena kalo tinggi, biasanya cepat habis," terang Ariel dari sisi vokal. Sementara Reza dan Loekman menyebut lagu 'Melawan Dunia' sebagai lagu yang paling gampang. "Lagu ini ciptaan Reza dan kayaknya dia memang lagi dendam tapi memilih berteriak di lagu saja," sindir Ariel sambil melirik Reza, drumer asal Palu itu sambil terkekeh kecil.

Single pertama yang diputar di radio adalah 'Menghapus Jejakmu'. Padahal menurut anak-anak PETERPAN, sebenarnya kalau mau beda, bukan lagu itu yang harusnya dijagokan. "Ada dua lagu yang tadinya kita sodorkan untuk mengagetkan penggemar kita. Lagu itu adalah Cobalah Mengerti dan Hari Yang Indah," terang Uki menambahi.

PETERPAN juga menggarap beberapa lagu yag eksperimental, tapi tidak ada yang masuk ke dalam list lagu. "Kita saja dengarnya rada aneh, kok bisa seperti itu. Tapi di album selanjutnya, kita mau coba beberapa lagu yang eksperimental banget," tambah Ariel. Toh, saat album ini mulai rilis ke pasar, mereka merasa lega juga. Meski ada hal-hal lain yang belum mereka capai juga, "Belum kesampaian bikin lirik bahasa Inggris," sambar Ariel yang masih mendominasi pembuatan lirik di album ini.

Kritik pertama yang masuk justru bukan pada divisi musikalitas, tapi pada kover. Pilihan kovernya terlalu sederhana dan kurang nendang untuk band sebesar PETERPAN. "Mungkin karena kita terlalu sibuk dengan urusan musik, jadi urusan seperti itu malah tidak kita pikirkan. Padahal penting juga ya," sahut Reza.

Apapaun kata orang, band yang kini banyak "diadu" dengan band-band baru macam The Titans atau Samsons ini tampaknya tetap yakin bakal diterima penggemarnya. Dari respon launching di tiga kota dan dua negara [Jakarta, Bandung dan Kuala Lumpur], PETERPAN masih bisa berharap banyak. Menurut kamu? [joko/foto: istimewa]
A R S I P

Minggu, 22 Juni 2008

science

Ilmuwan Temukan Jejak Es di Mars

Minggu, 22 Juni 2008 - 15:40 wib


LOS ANGELES - Dugaan bahwa di permukaan Mars terdapat es semakin menguat. Ini diketahui setelah wahana tak berawak Phoenix Mars Landers yang mendarat di Mars pada 25 Mei lalu berhasil mendeteksi keberadaan gumpalan putih yang menguap beberapa saat setelah ditemukan.

Awalnya Ilmuwan Badan Luar Angkasa Amerika Serikat (NASA) yang menjalankan misi tersebut menduga gumpalan itu adalah garam. "Zat berwarna terang yang sempat diambil Phoenix saat menggali parit tersebut adalah air yang membeku. Zat tersebut menguap setelah cukup lama terpapar di udara bebas," kata Peter Smith dari University of Arizona,Tucson dalam jumpa pers.

Smith menjelaskan, zat yang diyakini sebagai es itu ditemukan pada 15 Juni lalu di dasar parit Dodo-Goldilocks, salah satu bagian di Kutub Utara Mars. Saat Phoenix kembali meninjau bagian parit tersebut beberapa hari kemudian, zat itu sudah tidak terlihat. Smith menyatakan, pihaknya akan melakukan penyelidikan lebih lanjut yang akan dilakukan di parit yang kini dinamai Snow White 2 itu.

Smith berharap, dalam beberapa pekan ke depan pihaknya mendapatkan lebih banyak bukti tentang keberadaan air di Planet Merah itu. Namun, dia tidak menjelaskan zat apa saja yang kemungkinan akan ditemukan Phoenix. "Masih ada banyak waktu untuk menguak apa yang ada di permukaan Mars. Ini berarti segala kemungkinan dapat terjadi," ujar Smith. (sindo//srn)

Galaksi Bimasakti Lebih Ringan Ketimbang Matahari

Kamis, 29 Mei 2008 - 09:20 wib

Sarie - Okezone


CALIFORNIA - Menurut penelitian yang baru-baru ini dilaksanakan, Galaksi Bimasakti diprediksi memiliki beban sekira satu triliun lebih ringan dibanding matahari.

Sebelumnya, diprediksi berat galaksi bimasakti hanya berada dikisaran 750 miliar hingga 2 triliun berat matahari. Namun prediksi ini ternyata salah dan para ilmuwan percaya bahwa ukuran berat kali ini sudah benar karena telah melalui metode yang diperbaharui.

Berat galaksi ini diperkirakan dikontribusi oleh beberapa elemen di dalamnya seperti perpaduan antara bintang, gas, debu dan sebuah senyawa gelap yang masih belum diketahui namanya.

"Galaksi ini ternyata memiliki berat yang lebih ringan dibanding yang sebelumnya telah kita duga. Ini artinya senyawa lain yang ada dalam galaksi tersebut masih tergolong sedikit sehingga konversi suplai hidrogen dan helium ke beberapa bintang akan lebih efisien," ujar juru bicara observatorium astronomi nasional China Xiangxiang Xue seperti dikutip melalui Space.com, Kamis (29/5/2008).

Dugaan sementara didasari pada jumlah total beban dari sekira kurang dari 500 objek di galaksi. Sedangkan metode baru ini didasari pada data sekira 2.400 bintang yang ada di galaksi. (srn)

peterpan

Peterpan Bakal Rilis Album Terakhir
Beri Komentar
Cetak Berita
Daftar Newsletter
Kirim Email ke Teman
Kirim Komentar Ke Fans
Peterpan
Kapanlagi.com - Para penggemar Peterpan boleh menantikan album baru dan terakhir grup ini. Seperti diungkapkan manajernya di Bandung hari Jumat (13/06/08), grup yang digawangi Ariel, Mohammad Kautsar Hikmat, Ilsyah Ryan Reza, dan Loekman Hakim akan membuat album THE BEST. Ini akan jadi rekaman terakhir grup ini di bawah nama Peterpan.

Tapi tak perlu khawatir, album terakhir ini bukan berarti Peterpan bakal bubar, grup ini hanya akan ganti nama. "Rencana kita akan ganti nama, jadi untuk menggunakan nama ini album terakhir. Dan kita akan mempersiapkan album pertama dengan nama baru," ujar Budi Edward Soeratman, manajer Peterpan yang ditemui di KS 7 Futsal, Bandung.

Perubahan nama ini akan membawa perubahan dalam beberapa hal pada Peterpan, tapi selebihnya grup ini tetap sama. "Ya mungkin secara musikalitas pasti ada perubahan, tapi yang jelas tidak terlalu banyak perubahan terjadi, mungkin lebih banyak perubahan pada performance," tambah budi.

Sempat beredar rumor yang menyebut vokalis grup ini, Ariel akan meninggalkan Peterpan, tetapi dibantah oleh Budi. "Nggak, itu nggak bener. Justru anak-anak Peterpan ingin membuat konsep baru untuk nama yang baru," ungkapnya.

Setelah Andika dan Indra hengkang dan membentuk band baru, The Titans, grup ini tetap bertahan dengan empat personil. Tapi menurut Budi, mereka akan menemukan personil pengganti dengan melakukan audisional band. Tentang perubahan nama ini, pihak manajemen maupun band ini sendiri belum menentukan pilihan. "Belum ketahuan (nama baru). Kita belum mikir ke arah sana," ujar Budi. (kpl/hen/erl)


Peterpan Hibur Penggemar di Kuala Lumpur
Beri Komentar
Cetak Berita
Daftar Newsletter
Kirim Email ke Teman
Kirim Komentar Ke Fans
Peterpan
Kapanlagi.com - Peterpan, group band Indonesia, membuat ribuan penonton dan fansnya di stadium negara Kuala Lumpur, Minggu malam (27/4), histeris dan berjingkrak-jingkrakan (lompat-lompat) sejak lagu pertama hingga lagu ke-15 dalam konser Jelajah Malaysia 2008.

Begitu Ariel, vokalis Peterpan, muncul di panggung, para penonton berteriak histeris. Peterpan kemudian menggebrak dengan lagu pertama Langit Tak Mendengar dari album ALEXANDRIA, pada penampilan terakhir di Malaysia setelah konser di Tawau - Sabah (19/4), Kuching - Sarawak (20/4), Johor Bahru (26/4).

Lagu kedua, Peterpan menyanyikan lagu Kupu-Kupu Malam ciptaan Titik Puspa. Lagu ini sering dinyanyikan dalam konsernya Peterpan. Tidak disangka, hampir seluruh penonton Malaysia ikut bernyanyi dan hafal lagu ini sambil mengangkat tangan goyang ke kiri ke kanan.

Peterpan kemudian menyanyikan lagu Di Balik Awan dan Ku Katakan Dengan Indah. Ketika Ariel menyatakan, lagu berikutnya Mungkin Nanti, para penonton langsung menjerit histeris. Penonton yang di depan panggung semakin panas dan berjingkrakan dan ada yang buat lingkaran kecil berjoget bersama. Penonton di panggung pun ikut berdiri dan berjoget, ketika Peterpan membawakan lagu itu.

Lagu-lagu berikutnya yang dinyanyikan antara lain Di atas Normal, 2DSD, Melawan Dunia, Sally Sendiri, Mimpi Yang Sempurna, Hari Yang Cerah Untuk Jiwa Yang Sepi.

Penonton tetap semangat menyanyi bersama sambil melompat-lompat ketika Ariel mendendangkan lagu hitnya Ada Apa Denganmu. Para penonton semakin panas ketika lagu berikutnya lagu hits di album ketiga Peterpan, Menghapus Jejakmu kembali membuat penonton histeris dan berjoget bersama.

Tanpa musik berhenti langsung disambung dengan lagu Tak Bisakah kembali membuat seluruh penonton bernyanyi bersama dan jingkrak-jingkrakan lagi. Para penonton sangat hafal lagu-lagu Peterpan.

Peterpan menyudahi konsernya di Kuala Lumpur dengan lagu penutup Buka Dulu Topengmu. Setelah memberi hormat kepada seluruh penonton dan fansnya, Ariel keluar dari panggung. Tapi sebagian besar penonton masih terdiam seolah tidak mau berhenti berjoget.

Di luar stadium, kaos dan pamflet Peterpan langsung diserbu oleh para penggemarnya. Celcom, salah operator telepon seluler Malaysia, menjadikan Peterpan sebagai ikon produknya. Celcom juga yang mengadakan konser Dewa 19 di lima kota di Malaysia dalam dua minggu pada Desember 2007, dan kini konser Peterpan dalam Jelajah Malaysia di empat kota di Malaysia. (*/erl)

Minggu, 15 Juni 2008

bawah laut

Kawasan Persilangan Jejaring Perlindungan Laut

Bawah laut Teluk Cenderawasih. Foto : ©CI, Mark Edmann

Kehidupan di darat, akan tampak langsung. Tetapi bagaimana dengan kehidupan di bawah laut yang
selama ini menjadi suplai kehidupan dan sumber energi dan protetin bagi kehidupan di darat? Masih banyak yang menjadi "rahasia", karena pengetahuan manusia belum menjangkaunya. Oleh karena itu Conservation International menggagas suatu jaringan kawasan perlindungan laut (Marine Protected Area – MPA network) berdasarkan pada pemahaman kehidupan di laut. "Kita ingin membuat, membangun MPA network berdasarkan pemahaman atas kehidupan marine society dan ekosistemnya yang ada di seluruh wilayah bentang laut (seascape)," kata Ketut Sarjana Putra, Marine Conservation Director CI Indonesia (CII). Menurut Ketut, survai atau penelitian dilakukan oleh tim CI ingin melihat apakah ada hubungan ekologi, sistem hidup, genetika, atau biodiversivitas dari keaneka ragaman jenis terumbu karang, terumbu karang dan ikan serta invertebrata yang ada di kawasan seascape dengan kawasan-kawasan yang lain.

Penelitian ini menjadi penting karena merupakan bahan pertimbangan untuk memasukkan kawasan ini kedalam MPA. Selain itu, ada maksud lain yaitu, membangun wilayah jaringan sehingga MPA ini mempunyai fungsi ekologi secara berkesinambungan. "Kita percaya kalau fungsi ekologi sudah baik lalu kita bangun MPA kemudian kita berharap akan memberikan keuntungan ekonomi jangka panjang terhadap daerah itu."

Dalam visi kedepan, kawasan MPA ini diharapkan agar tetap terus berfungsi baik secara ekonomi, dan ekologi. Jika kawasan ini terpelihara, maka ikan dan hasil-hasil laut yang ada di sekitar kawasan itu dapat terus berproduksi secara berkesinambungan.

Jaringan MPA diharapkan pula mempunyai unsur untuk menunjang produktifitas perikanan seperti tempat pemijahan ikan (storming aggregation), yang menjadi salah satu kunci untuk bagi pembangunan MPA. Selain itu, mesti diketahui pula lokasi terumbu karang paling kuat berperan positif –secara alamiah—misalnya bila terjadi perubahan iklim global (global climate change). Dengan survei yang dilakukan oleh CI maka bisa ditentukan tempat yang mempunyai nilai ketahanan (resiliensi) paling tinggi.

Balistoides conspicillum.Foto : ©CI, Gery Allen

Langkah awal pengenalan dimana kriteria kriteria-kriteria MPA dapat diterapkan, mulai dirancang tahun 2006-2007 ini. Saat ini CI baru menemukan menemukan calon-calonnya saja. Penelitian terakhir menunjukkan kawasan karang yang paling unik dan paling tinggi keanekaragaman hayatinya (baik ikan maupun terumbunya) telah diketahui adalah: Tanjung Patisol, Triton Bay, Kaimana, selain itu tentu saja kawasan Kepulauan Raja Ampat, yang pernah diteliti oleh tim CI tahun 2001, telah masuk dalam hitungan.

Kawasan diatas itulah yang merupakan salah satu contoh "calon MPA" yang akan merupakan komponen jaringan keseluruhan dengan apa yang disebut dengan bentang laut (seascape). Ini adalah sebuah strategi, seperti telah kita ketahui, CI merupakan organisasi konservasi yang mendasarkan keputusan dan strateginya dengan sains, oleh karena itu kata Ketut, CI ingin menggunakan conservation science itu sebagai pijakan dengan mengadakan analisis dan meneliti kembali seluas apakah MPA yang harus dibuat, sehingga kawasan perlindungan laut itu berfungsi secara ekologis.

Kompleksitas kehidupan di laut memang menantang ilmuwan CI untuk terjun lebih dalam meneliti sejauh mana kehidupan laut berinteraksi. Misalnya, apabila kita ingin menyelamatkan kelestarian ikan kerapu (grouper) yang kini terus diburu dan di gemari sebagai ikan ekspor kelas satu itu. Maka mestilah diketahui dimana ikan tersebut memijah (storing). Setelah tahu tempat memijah—karena hidup di laut bebas—penting pula diketahui dimana mereka hidup mencari makan dan berinteraksi, mereka traveling ke mana saja dan seberapa jauh perjalanan (migration) ikan ini dari tempat dia makan ke tempat dia bertelur. Nah, kalau sudah tahu dan terdeteksi wilayah itu mungkin itu adalah salah satu acuan kita menentukan minimum size besaran MPA. Ikan karang termasuk kerapu, adalah jenis-jenis ikan yang gampang punah, sebab mempunyai banyak kelemahan: kerapu sama halnya dengan ikan napoleon, memerlukan usia cukup tua untuk dapat berkembang biak. "Lima hingga tujuh tahun, baru gonadnya matang, dan ikan ini memerlukan waktu sangat lama untuk menjadi dewasa, dan lambat sekali tumbuhnya," tambah Ketut.

Soal kawasan persilangan tadi: hal serupa bisa diterapkan pada penyu yang sekarang telah diketahui kawasan interbreeding binatang paling tua secara evolutif ini. Sekarang kita tahu tempat bertelur dia di Pulau Penu, Tabuda, Tataruga, Pulau Piae dan Pulau Sayang. Namun dari data satelit, kita ketahui pula bahwa penyu tersebut mengadakan perjalanan hingga sangat jauh sampai ke wilayah Aru, jadi penyu yang bertelur disini adalah penyu dari Kalimantan atau Wilayah Aru dan Papua Nugini.

Penyu juga bisa difungsikan sebagai highlit migratory species, karena digunakan pendekatan kawasan persilangan (interbreeding areas). Misalnya, apabila di suatu malam seekor penyu bertelur di suatu kawasan tertentu kemudian siang atau sore harinya mereka berada di kawasan lain yang jaraknya sangat jauh, maka kawasan ini dapat ditentukan menjadi kandidat untuk kawasan konservasi laut, dan itulah lebaran MPA yang bisa ditetapkan. Penyu hijau atau sisik dapat berjalan sekitar 5 km atau bahkan 10 km dari pantai dimana mereka meletakkan telur. Dan wilayah terumbu karang dimana penyu itu beraktifitas, berarti kawasan tersebut merupakan kawasan persilangan mereka.//fm

Berita terkait : Keuntungan Jangka Panjang di Bentang Laut Kepala Burung

An English Version : Interbreeding Areas and Marine Protection Network

spasi
spasi spasi spasi spasi

Senin, 02 Juni 2008

sejarah islam

gowa- tallo

Sejarah Gowa tentu tidak dapat dipisahkan dengan Islam. Daerah ini menjadi salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang kini berpenduduk tidak kurang dari 600 ribu jiwa yang mayoritasnya adalah Muslim. Setelah Kerajaan Gowa-Tallo memeluk Islam, penyebaran Islam di Sulawesi dan bagian timur Indonesia sangat pesat. Kerajaan Gowa-Tallo berhasil menorehkan tinta emas sejarah peletakan dasar dan penyebaran Islam di bagian timur negeri ini. Kerajaan ini juga adalah kerajaan yang menerapkan syariah Islam. Karena itu, wajar kalau Gowa ini dikenal sebagai “Serambi Madinah”. Tulisan ini berupaya menyegarkan ingatan kita kembali tentang sejarah gemilang ini.


Awal Masuknya Islam

Penyebaran Islam di Nusantara pada awalnya tidak bisa dilepaskan dari aktivitas perdagangan. Demikian halnya dengan kedatangan Islam di Gowa. Penyebaran Islam yang dilakukan oleh para pedagang dimungkinkan karena di dalam ajaran Islam tidak dibedakan antara tugas keagamaan seorang Muslim, sebagai penyebar nilai-nilai kebenaran, dan profesinya sebagai pedagang. Setiap Muslim, apapun profesinya, dituntut untuk menyampaikan ajaran Islam sekalipun satu ayat.

Sekalipun para pedagang Muslim sudah berada di Sulawesi Selatan sejak akhir Abad XV, tidak diperoleh keterangan secara pasti, baik dari sumber lokal maupun sumber dari luar, tentang terjadinya konversi ke dalam Islam oleh salah seorang raja setempat pada masa itu, sebagaimana yang terjadi pada agama Katolik.

Agaknya inilah yang menjadi faktor pendorong para pedagang melayu mengundang tiga orang mubalig dari Koto Tangah (Kota Tengah1) Minangkabau ke Makassar untuk mengislamkan elit Kerajaan Gowa-Tallo. Inisiatif untuk mendatangkan mubalig khusus ke Makassar sudah ada sejak Anakkodah Bonang (Nahkodah Bonang2). Ia adalah seorang ulama dari Minangkabau sekaligus pedagang yang berada di Gowa pada pertengahan Abad XVI (1525).

Keberhasilan penyebaran Islam terjadi setelah memasuki awal Abad XVII dengan kehadiran tiga orang mubalig yang bergelar datuk dari Minangkabau.3 Lontara Wajo menyebutkan bahwa ketiga datuk itu datang pada permulaan Abad XVII dari Koto Tangah, Minangkabau. Mereka dikenal dengan nama Datuk Tellue (Bugis) atau Datuk Tallua (Makassar), yaitu: (1) Abdul Makmur, Khatib Tunggal, yang lebih populer dengan nama Datuk ri Bandang; (2) Sulaiman, Khatib Sulung, yang lebih populer dengan nama Datuk Patimang; (3) Abdul Jawad, Khatib Bungsu, yang lebih dikenal dengan nama Datuk ri Tiro.

Ketiga ulama tersebut yang berasal dari Kota Tengah Minangkabau, diutus secara khusus oleh Sultan Aceh dan Sultan Johor untuk mengembangkan dan menyiarkan agama Islam di Sulawesi Selatan. Mereka terlebih dulu mempelajari kebudayaan orang Bugis-Makassar, di Riau dan Johor, tempat orang-orang Bugis-Makassar berdiam. Sesampainya di Gowa, mereka memperoleh keterangan dari orang-orang Melayu yang banyak tinggal di Gowa, bahwa raja yang paling dimuliakan dan dihormati adalah Datuk Luwu’, sedangkan yang paling kuat dan berpengaruh ialah Raja Tallok dan Raja Gowa.4

Graaf dan Pigeaud mengemukakan bahwa Datuk ri Bandang sebelum ke Makassar lebih dulu belajar di Giri. Datuk ri Bandang dan temannya yang lain, ketika tiba di Makassar, tidak langsung melaksanakan misinya, tetapi lebih dulu menyusun strategi dakwah. Mereka menanyakan kepada orang-orang Melayu yang sudah lama bermukim di Makassar tentang raja yang paling dihormati. Setelah mendapat penjelasan, mereka berangkat ke Luwu untuk menemui Datuk Luwu’, La Patiware Daeng Parabu. Datuk Luwu adalah raja yang paling dihormati, karena kerajaanya dianggap kerajaan tertua dan tempat asal nenek moyang raja-raja Sulawesi Selatan. Kedatangan Datuk Tellue mendapat sambutan hangat dari Datuk Luwu’, La Patiware Daeng Parabu.5


Ekspedisi Islam oleh Kerajaan Gowa-Tallo’

Sejak agama Islam menjadi agama resmi di Gowa-Tallo’, Raja Gowa Sultan Alauddin makin kuat kedudukannya. Sebab, beliau juga diakui sebagai Amirul Mukminin (kepala agama Islam) dan kekuasaan Bate Salapanga diimbangi oleh qadhi, yang menjadi wakil raja untuk urusan keagamaan bahkan oleh orang-orang Makassar, Bugis dan Mandar yang telah lebih dulu memeluk agama Islam pada abad XVI. Sultan Alauddin dipandang sebagai pemimpin Islan di Sulawesi Selatan.

Cara pendekatan yang dilakukan oleh Sultan Alauddin dan Pembesar Kerajaan Gowa adalah mengingatkan perjanjian persaudaraan lama antara Gowa dan negeri atau kerajaan yang takluk atau bersahabat yang berbunyi antara lain: barangsiapa di antara kita (Gowa dan sekutunya atau daerah taklukannya) melihat suatu jalan kebajikan, maka salah satu dari mereka yang melihat itu harus menyampaikan kepada pihak lainnya.6

Karena itu, dengan dalih bahwa Gowa sekarang sudah melihat jalan kebajikan, yaitu agama Islam, Kerajaan Gowa meminta kepada kerajaan-kerajaan taklukannya agar turut memeluk agama Islam. [Gus Uwik]

sekolah alam

METODE BELAJAR SEKOLAH ALAM BANDUNG

SAB menekankan proses pembelajaran secara langsung dari alam yang ada pada kekayaan lingkungan kita. Alam semesta yang dimanfaatkan antara lain :

  • Objek pendidikan & uji coba

    Dengan cara mengamati dan memahami langsung gejala alam yang terjadi, sehingga kita bisa mendapatkan alat peraga alami yang tepat dan murah.

  • Modal Produksi
Dengan mengolah hasil dari praktik di alam kita dapat menghasilkan dana untuk biaya sendiri
  • Sarana pengembangan manusia

    Manusia tumbuh dan berkembang berdasarkan interaksinya dengan alam, kebersamaan manusia dengan alamnya akan menghasilkan manusia yang berwawasan lingkungan, cinta dirinya, lingkungannya, dan cinta kepada Robbnya.


Sabtu, 24 Mei 2008

kamen rider

The image “http://www.tvt.ne.jp/~nor/555/KAIXA/913_4.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.http://www.henshinonline.com/images/kamen555_04.jpg

manusia kecil atau jenglot

Makhluk Kecil Itu seperti Manusia

Seorang warga Cile telah menemukan makhluk kecil berbentuk manusia dengan panjang sekitar 8 cm. Penemuan ini semakin memperkuat keberadaan "manusia kecil" di masa silam.

(Erabaru.or.id) - Pada awal bulan Oktober tahun lalu, telah ditemukan makhluk bernyawa yang berbentuk aneh di sebuah tempat yang tiada jejak manusia di Cile, ketika itu ia masih hidup, namun setelah beberapa hari kemudian ia mati, bahkan berubah menjadi seperti mumi.

Menurut laporan AFP di Santiago, Cile, di selatan Cile ditemukan sebuah makhluk hidup kurus kering bahkan hampir mati dengan tinggi badan kurang dari 8 cm, mempunyai kepala, 4 anggota badan, dan batang tubuh yang baik pertumbuhannya, tidak mirip janin manusia, juga bukan makhluk apa pun yang sudah diketahui. Makhluk kecil ini setelah dipungut oleh seorang lelaki di lembah 500 km dari Santiago hanya bertahan hidup selama 8 hari lalu mati, selama 8 hari itu, ia tidak makan dan minum. Sebelum mati, ia terus memutar-mutar salah satu matanya tiada henti.

Berdasarkan laporan itu, setelah mati, dengan cepat dan juga tidak dikompresi, tubuhnya lalu berubah menjadi mumi. Otaknya jauh melampaui dengan perbandingan normal tubuhnya, mata menatap bagian rusuk, leher kasar, mempunyai 4 kaki. Dokter hewan Pieter Carlton telah melakukan pemeriksaan terhadapnya, dia mengatakan, ia bukan tergolong dari jenis spesies mana pun. Dokter Mario Duciel memegang makhluk itu dan berkata kepada wartawan: "Ia adalah janin mati manusia". Setelah psikolog Duciel berbincang-bincang dengan setiap anggota keluarga lelaki itu, menganggap bahwa semua ini bukan sebuah penipuan, "ada tanda-tanda pembentukan sebuah tubuh makhluk hidup yang demikian!" Namun sebagian besar orang menganggap bahwa terlalu dini untuk menarik kesimpulan: "Bukannya tidak pernah melihat janin mati, namun tidak ada hal demikian."

Kemudian penemuan ini dikirim ke ibukota Cile untuk menerima pembuktian dari para ahli. Namun, berdasarkan pengalaman masa lalu, bila ditemukan terdapat kepalsuan masih mudah penyelesainnya, dibongkar supaya menjadi jernih selesai, jika melalui serangkaian pembuktian dan yang ditemukan adalah makhluk hidup serba baru, maka hal ini harus melihat apakah kalangan ilmuwan memiliki keberanian untuk menghadapi kenyataan tersebut.

Meskipun pembuktian tentang makhluk kecil yang ditemukan di Cile di atas masih belum begitu terang, boleh jadi dia memang "manusia kecil". Sebab dalam sejarah umat manusia yang sudah berusia ratusan juta tahun, makhluk ini dipercaya pernah hidup dan berkembang biak. Dalam catatan sejarah, keberadaan makhluk sejenis manusia yang bertubuh kecil adalah nyata.

Sebagai contoh, pada bab 480 dan 482 dalam "Catatan Taipingguang (sekitar 960-1279 SM) disebutkan, pada wilayah barat laut lautan Xiuhai, ada sebuah negara bernama Heming. Orang-orang di sana tingginya 3 inci, namun dapat berjalan seribu mil sehari. Langkah mereka seperti terbang, namun mereka sering ditelan oleh burung camar. Cerita lain. Li Zhangwu memiliki sebuah manusia kering yang kecil, yang sudah diawetkan dengan lilin. Tingginya hanya tiga inci. Kepala, paha dan dadanya utuh tak cacat sedikit pun. Alis dan matanya terlihat jelas. Dikatakan "jenglot" itu adalah seorang warga negara Jiaojiao, "negara orang kerdil" yang disebutkan dalam legenda China kuno. Pada Dinasti Wei (386-534 SM), di Heijan juga ditemukan 8-9 manusia kecil dengan tinggi 6 inci.

Dengan penemuan di Cile dan bukti "Catatan Taipingguang", mungkinkah manusia kecil benar-benar pernah hidup di muka bumi ini? Jenglot (lihat halaman berikutnya), kalau benar merupakan makhluk sebangsa manusia dengan tubuh kecil, barangkali semakin memperkuat keberadaan makhluk itu. Memang, masih banyak misteri kehidupan di alam ini yang belum diketahui oleh manusia biasa.

(Sumber : Dajiyuan)



Jejak Manusia Kerdil di Meru Betiri

Kalau di Cile ditemukan manusia kecil dengan ukuran sekitar 10 cm, belum lama ini ditemukan jejak manusia kerdil di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jember, Jawa Timur. Manusia kerdil ini ukurannya jauh lebih besar dibandingkan manusia kecil di Cile, dan kelihatannya lebih tepat disebut manusia cebol.

Anang Ritarno, aktivis Kelompok Indonesia Hijau Jawa Timur, mengaku telah menemukan jejak manusia kerdil itu. "Saya menemukan jejak manusia kerdil itu secara tidak sengaja," katanya beberapa bulan lalu. Jejak manusia liliput yang ditemukan di sekitar muara sungai Nanggelan, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Jember, seukuran korek gas. Setelah diukur, panjang telapak kaki itu dari ujung jempol hingga tumitnya hanya 9,2 cm, lebarnya 2 cm, dan panjang jempolnya 1 cm.

Penemu jejak kaki manusia cebol ini mengaku sebelumnya pernah dua kali menyaksikan manusia seperti itu, yaitu pada 1984 dan 1999. "Saat itu saya sedang mengikuti acara training mahasiswa pencinta alam di muara sungai sekitar pantai Sukamade dan pantai Nanggelan," ujar pemandu mahasisiwa pecinta alam itu. Tanpa sengaja, dirinya melihat 8 orang kerdil tengah bercengkerama di tepian sungai sambil menikmati udang hasil tangkapan mereka. Dalam jarak sekitar 15 meter, Anang melihat manusia mini itu berambut gimbal sebahu, kulit hitam, tinggi badan sekitar 60-70 cm, tanpa busana, dan berjalan tegak layaknya manusia. "Begitu melihat kehadiran saya, mereka langsung melarikan diri masuk hutan," ungkapnya.

Hal yang sama juga pernah dialami oleh seorang anggota DPRD Jember, Herry Budi Ermawan. Anggota dewan yang punya hobi memancing itu mengaku dua kali menemukan jejak manusia cebol itu, September 2002, di kawasan pantai Bandealit. "Ukurannya kira-kira seperti Ucok Baba di TV itu," katanya. Saat hendak memancing di muara, Herry melihat lima manusia kerdil juga sedang menangkap ikan dengan alat kecil mirip tombak. Namun beberapa saat kemudian, mereka melarikan diri begitu melihat kehadiran Herry. Seminggu kemudian, Herry kembali ke tempat itu dengan membawa kamera. Ia pun berhasil menjepret rombongan manusia mini itu dari jarak sekitar 10 meter. "Tetapi anehnya, setelah saya cuci cetak lima lembar film tidak ada gambar mereka, hanya latarnya saja."

Cerita mengenai keberadaan manusia cebol itu memang sudah lama diketahui masyarakat sekitar taman nasional itu. Masyarakat sekitar kawasan taman nasional menyebut manusia mini itu dengan sebutan wong wil atau siwil yang berarti orang kecil. "Saat ini sudah tercatat 45 orang warga sekitar taman nasional yang menyaksikan keberadaan mereka," kata Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri Jember, Siswoyo. Menurutnya, kabar adanya manusia mini itu telah sering didengar petugas taman nasional sejak setahun lalu, namun baru kali ini ada penemuan jejak mereka dan berhasil diabadikan dengan kamera.

Siswoyo menambahkan, ada 37 kasus yang pernah ditemui masyarakat tentang keberadaan manusia kerdil itu. Mereka diketahui mengganggu sejumlah nelayan atau pencari ikan di sekitar muara dengan cara mengambil ikan hasil tangkapan masyarakat sekitar hutan tersebut. "Jejaknya ada dan difoto oleh seorang fotografer pencinta alam pada tanggal 13 Februari 2003," katanya. Tinggi manusia kerdil itu diperkirakan 80 cm, panjang tapak kaki dari tumit sampai ibu jari sekitar 9,7 cm dan lebar tapak kaki 3,2 cm.

Menyangkut keberadaan manusia kerdil yang dilaporkan berkeliaran di sekitar muara sungai dan pantai di kawasan TNMB, Ir. Siswoyo mengaku masih belum bisa merekam keberadaan manusia itu. Empat kamera otomatis sengaja dipasang di sekitar tempat warga yang pernah berpapasan dengan siwil, tetapi tak satu pun berhasil mengabadikannya. Saat ini, pihak TNMB sudah memasang 14 perangkat foto trap di sudut-sudut hutan itu, namun keberadaan mereka belum juga terekam.

(Dari berbagai sumber)



Jenglot: Manusia Kecil yang Sesunguhnya?

Sekitar tahun 1980-an seorang pria ditangkap petugas Polda Metro Jaya Jakarta, pasalnya ia dituduh menjual "mayat aneh " untuk umum. Mayat tersebut kemudian disita dan dibawa ke RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) Jakarta. Para dokter kebingungan, makhluk berukuran kecil tersebut diduga seorang mayat manusia yang disinyalir pernah hidup di dunia.

Sejak saat itu, perbincangan adanya temuan mayat aneh tersebut menjadi tanda tanya besar hingga saat ini, tanpa menemukan jawaban yang pasti. Belakangan makhluk aneh semacam itu populer dengan nama jenglot, dan kini menjadi barang tontonan yang dipamerkan di sejumlah tempat perbelanjaan di kota-kota besar di Tanah Air. Setiap kali jenglot dipamerkan, banyak penonton yang penasaran ingin melihatnya secara langsung. Entah sudah berapa kali makhluk misterius tersebut manggung, dipertontonkan di muka publik.

Adalah Hendra Hartanto, pengusaha restoran dari Surabaya yang mempopulerkan nama jenglot peliharaannya. Ia menemukan jenglot tersebut sekitar tahun 1972, saat ia "semedi" di pantai Ngliyep, Malang, Jawa Timur. Saat bertapa pertama kali sosok "seseorang" memberinya 2 makhluk, yang disebutnya Bethara Kapiwira dan Bethara Katon. Sejak 1997, ia mulai memamerkan jenglot di Ibukota Jakarta, sampai sekarang masih berlangsung.

Kemungkinan Makhluk Hidup
Jenglot memang seperti manusia, hanya saja berperawakan kecil dengan panjang tubuh sekitar 10,65 cm, memiliki bagian serupa kepala, badan, tangan, dan kaki serta mempunyai kuku dan rambut panjang terurai sepanjang 30 cm melampaui panjang kaki, ada yang lebat dan ada yang jarang. Ukurannya masing-masing tampak proporsional. Ukuran kuku jari dan taring panjang meruncing. Taring mencuat cukup panjang hampir sepanjang ukuran kepalanya.

Menurut pemiliknya, Jenglot bukanlah benda mati tetapi dapat "hidup" (makhluk hidup). Hendra Hartanto, sang pemilik, mengaku Jenglot yang dipeliharanya memerlukan makan berupa darah manusia yang dicampur minyak japaron. Setiap 35 hari setiap Jumat Legi diberi satu tetes darah dicampur minyak japaron. Dengan cara botol yang berisi darah dalam tabung kemudian diletakkan secara terpisah di dekat jenglot. Dalam jangka waktu sekitar 18 jam, kira-kira 3 cc darah dan minyak wangi akan berkurang sekitar 50-60%.

Tanda-tanda kehidupan jenglot juga bisa dilihat dari rambut di kepala dan beberapa bagian tubuh lainnya yang ternyata tumbuh bertambah semakin panjang bahkan lebih panjang dari ukuran tubuhnya. Kuku jari ternyata dapat memanjang seperti layaknya kuku manusia ataupun binatang. Pada saat tertentu posisi kaki, tangan dan mata dapat berubah, seakan menunjukkan adanya pergerakan, sebagaimana makhluk hidup pada umumnya.

Diteliti Dokter Forensik
Enam tahun yang lalu, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, pernah kedatangan "pasien" jenglot. Hendro Hartanto ingin membuktikan bahwa secara medis jenglot miliknya memang merupakan penjelmaan manusia yang pernah hidup. "Waktu itu tim medis di sini kaget, ada seorang pasien yang didaftarkan atas nama jenglot, dikira itu nama orang. Karena bingung mau ditangani di bagian mana maka "pasien" tersebut dibawa ke belakang sini (bagian forensik)," ujar dr. Djaja Surya Atmaja Sp.F., Ph.D., S.H., D.F.M., seorang dokter bagian forensik FKUI pada Era Baru. Di bagian forensik inilah jenglot diteliti lebih lanjut.

Untuk membuktikan sisi "kemanusiaan" jenglot tersebut maka tim dokter forensik FKUI RSCM melakukan deteksi dengan alat rontgen untuk mengetahui struktur tulang serta pemeriksaan bahan dasar kehidupan seperti C, H, O atau proteinnya. "Semua data awal saya catat dengan teliti dan selengkap-lengkapnya. Ini saya lakukan agar penelitian ini benar-benar dapat dilakukan secermat-cermatnya, ini kan menyangkut pertanggungjawaban pada ilmu pengetahuan," kata dr. Djaja. Ia menjelaskan bahwa rontgen merupakan sebuah alat yang sangat peka dan sensitif untuk dapat mengetahui dan melihat sisi bagian dalam tubuh. Maka dilakukan foto rontgen untuk mengetahui struktur di dalam tubuh jenglot secara jelas. Dari foto tersebut ternyata belum terlihat struktur dalam tubuh jenglot, yang terlihat kosong (hanya semacam daging tanpa tulang) dan hanya terlihat sebatang "tonggak" menyerupai tulang yang menyangga dari kepala sampai tubuh.

Para dokter belum puas dengan hasil tersebut. Diduga dengan foto rontgen yang telah dilakukan ada kemungkinan kemampuan sinar rontgen kurang akurat. Oleh karena itu untuk mengetahui lebih pasti maka dilakukan foto Mamo. "Foto Mamo ini mempunyai tingkat kepekaan dan sensitifitas lebih baik, lebih akurat, lebih peka dan lebih sensitif daripada foto rontgen," jelas dr. Djaja. Hasil foto ternyata tidak berbeda dengan hasil yang terlihat pada foto rontgen. Organ dalam tubuh jenglot tetap tidak tampak. Dengan kata lain struktur dalam tubuh jenglot tetap tidak terlihat.

Tim forensik semakin penasaran, tidak puas dengan hasil tes-tes awal, maka tim forensik sepakat untuk meneliti jenglot dengan CT Scan. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa penelitian secara medis harus dilakukan secermat mungkin. Hasil yang diperoleh ternyata dalam tubuh jenglot tidak menampakkan struktur tubuh seperti yang seharusnya ada pada manusia. Hal ini memunculkan tiga dugaan bahwa makhluk aneh itu kemungkinan manusia yang memiliki struktur fisik yang telah berubah. Kemungkinan kedua, sel kulit tersebut telah terkontaminasi dari luar. Sedangkan kemungkinan ketiga, bisa jadi makhluk kecil tersebut adalah makhluk jenis lain yang belum atau tidak dikenal dalam dunia medis hingga saat ini.

Tes DNA yang Mencengangkan
Belakangan, dr. Djaja Surya Atmaja, tergerak untuk meneliti unsur DNA (deoxyribose nucleic acid), sebuah unsur yang merupakan material genetik berupa basa protein yang membangun struktur kromosom. "Saya didorong beberapa teman untuk meneliti lebih lanjut," katanya. Unsur ini merupakan gabungan suatu gula, fosfat dan basa. Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa DNA merupakan pembangun dari awal suatu kehidupan sesuatu makhluk hidup. Tanpa DNA "sesuatu" makhluk tak akan mampu hidup.

Tes tersebut dilakukan dengan media rambut dan kulit yang diambil dari sisi tubuh jenglot. Sampel sel kulit tersebut kemudian dianalisis dengan metode analisis PCR (Polymerase Chain Reaction). Dengan metode ini DNA dimultiplikasi (diperbanyak). Untuk memperbanyak DNA harus menggunakan bahan pemicu agar DNA dapat keluar dari inti sel sehingga dapat diketahui jenis DNA-nya. "Dalam hal ini, saya menggunakan pemicu DNA manusia, yakni jenis DNA HLA-DQ Alfa dan DNA Polymarker," kata dr. Djaja. Jika DNA dari sel yang diteliti tersebut mengandung DNA manusia maka akan keluar pita DNA jenis manusia dan jika DNA tersebut DNA jenis hewan maka tidak akan keluar pita DNA manusia. "Saya kaget ternyata hasilnya positif, sampel sel kulit jenglot tersebut mengandung DNA dengan karakteristik manusia. Artinya spesimen sel jenglot tersebut berjenis sel manusia," katanya seakan tak mempercayai hasil temuannya.

Begitu juga dari penelitian struktur rambutnya. Struktur rambut manusia terdiri dari akar yang diselimuti gelembung sebagai medan tumbuh rambut, kulit rambut, dan di dalam kulit rambut terdapat sumsum rambut. Ada anggapan bahwa rambut jenglot ini ditanam dengan sengaja. "Sangat mustahil kalau rambutnya ditanam, kecuali terlalu lebat, juga rasanya sulit menanam rambut pada media tubuh jenglot yang kecil," kata dr. Djaja. Dari pemeriksaan struktur rambut jenglot, menurutnya bahwa rambut jenglot mempunyai struktur rambut asli walaupun strukturnya tidak sama persis dengan struktur rambut manusia. Jadi mirip rambut manusia. Struktur rambut jenglot mempunyai kelengkapan, yakni akar, diameter rambut agak besar, serta sumsum kecil mirip manusia. Akar tertanam di dalam gelembung dalam kulit persis sama dengan gelembung rambut manusia. Dalam rambut terdapat sumsum berukuran kecil seperti halnya dalam sumsum rambut manusia. Berbeda dengan sumsum rambut pada binatang yang mempunyai sumsum yang besar. Ada anggapan bahwa rambut jenglot ini ditanam dengan sengaja.

Di luar tes DNA, dr. Djaja juga sempat membuktikan pergerakan jenglot yang sekilas tampak hanya seperti sebuah mumi tanpa gerak. Bukti gerak jenglot dilakukan dr. Djaja dengan mengambil gambar atau foto. Bola mata jenglot digerakkan dengan tangan dan ternyata sulit bergerak, seakan-akan telah terpatri secara permanen. Mustahil digerakkan tangan tanpa merusaknya. Oleh karena itu dr. Djaja melakukan pengambilan gambar. Pengambilan gambar dilakukan dengan dua kali pemotretan, dalam kurun waktu yang berbeda. Gambar pertama menunjukkan bahwa kedua bola mata jenglot, titik hitamnya tepat berada di tengah-tengah. Gambar kedua yang dilakukan beberapa waktu kemudian, ternyata menampakkan hasil bahwa titik hitam pada bola mata jenglot telah berubah letaknya. Satu bola mata berada di atas sedangkan satu bola mata lagi telah turun ke bawah. Inikah satu bukti kehidupan yang ditunjukkan oleh jenglot?

Hasil tes DNA dan pembuktian gerak jenglot yang dilakukan dr. Djaja barangkali belum secara lengkap membuktikan "tanda kehidupan" pada diri jenglot. Sebab upaya dr. Djaja untuk mengetes DNA jenglot dengan sampel organ bagian dalamnya tidak disetujui pemiliknya. Alasannya takut merusak tubuhnya yang mungil itu, di samping takut "kualat". Djaja sendiri mengaku sebenarnya tertarik untuk melakukan penelitian lebih dalam terhadap jenglot, namun selama ini terbentur pada masalah dana yang besar. "Kalau ada sponsor mungkin saya berani meneliti jenglot lebih dalam lagi," ujarnya. (Rachmat P.)

sience

Lyuba, pesan sakral dari masa depan

(Erabaru.or.id) – Beberapa waktu lalu, penemuan bangkai bayi mammoth (gajah purba) yang membeku selama 37.000 tahun di pelosok Siberia, sempat menjadi bahan pembicaraan hangat di beberapa media massa diseluruh dunia. Bayi mammoth ini ditemukan oleh seorang penggembala rusa kutub di Semenanjung Yamal, Siberia bernama Yuri Khudi pada bulan Mei 2007 lalu. Berada di tepi sungai yang mulai mencair dari kondisi es, ia tiba-tiba melihat bagian kepala seonggok binatang dari dalam es. Bangkai binatang yang pertama ia duga rusa yang telah mati, ternyata merupakan fosil nyaris utuh dari seekor bayi gajah purba (mammoth) berumur puluhan ribu tahun, menjadikannya sebagai penemuan fosil mammoth terbesar sampai saat ini.


Yuri Khudi, sang penggembala rusa penemu bayi mammoth

Menurut para ilmuwan, hingga kini fosil mammoth yang berhasil ditemukan di dunia hanyalah sebatas tulang-belulang saja dan itupun bisa dikatakan sangat jarang. Penemuan bangkai mammoth yang hampir utuh dapat dihitung dengan jari, dengan total 3 kasus (termasuk penemuan kali ini) dalam 200 tahun terakhir. Karenanya, penemuan tak sengaja oleh penggembala rusa dari Rusia ini merupakan penemuan paling berharga dalam sejarah, terutama bila dilihat dari tingkat pengawetan mammoth tersebut.


Penemuan bayi mammoth yang mengejutkan

Berbicara mengenai tingkat keawetan, bayi mammoth ini memang diketemukan dalam kondisi yang hampir sempurna, lengkap dengan belalai dan kedua matanya, begitupun dengan sebagian bulu-bulunya yang masih menempel. Oleh si penggembala rusa, mammoth ini diberi nama “Lyuba” , yang diambil dari nama istrinya sendiri.


Lyuba

Sebuah pemeriksaan awal dilakukan oleh sebuah tim pakar internasional yang berkumpul di kota Salekhard, Yamal-Nenets segera setelah hari penemuannya. Dari hasil pemeriksaan, si kecil Lyuba diketahui berukuran tinggi 120 cm dan berat 50 kilogram, dengan kondisi fisik yang kurang sempurna yaitu telinga dan ekornya yang terpotong, diperkirakan karena tergigit. Selesai pemeriksaan, Lyuba disimpan di Museum Shemanovsky sebelum akhirnya dikirim ke universitas Jikei, Jepang pada bulan Desember 2007 untuk diteliti lebih lanjut dengan menggunakan teknologi CT Scan.


Pemeriksaan awal oleh team professional di Yamal-Nenets

Di Tokyo, Lyuba ditangani oleh team professional dari Universitas Jikei yang dipimpin oleh Mr. Naoki Suzuki, dimana penelitian dilakukan dengan menggunakan sistim peralatan canggih berteknologi tinggi. Hasil dari CT-Scan, foto-foto, dan “Lyuba” sendiri tengah dipamerkan di Museum Sains Tokyo dan gedung pusat pertokoan Marunouchi, Tokyo Jepang selama bulan Januari-awal Februari 2008. Ini merupakan pertama kalinya masyarakat luas dapat melihat langsung keadaan Lyuba dari dekat, sekaligus mengetahui hasil penelitian dan rencana yang akan dikembangkan terhadap Lyuba di masa depan.


Salah satu foto Lyuba yang tengah dipamerkan di Museum Sains Tokyo

Laporan yang dibeberkan dalam pameran tersebut antara lain meliputi metode penanganan Lyuba sebelum dimasukkan dalam mesin CT-Scan. Bayi gajah purba ini diselubungi dengan plastik khusus sebelum dimasukkan kedalam kontainer pendingin untuk menjaga kesterilan dan keawetannya. Dari sana, kontainer yang sudah tersegel rapat dimasukkan kedalam mesin CT-Scan berukuran besar untuk dilakukan scanning.


Tahap-tahap yang dilakukan sebelum CT-Scan

Hasil dari CT-Scan cukup memuaskan, dimana para ilmuwan melakukan dapat melihat bagian rahang yang masih menyisakan gigi-gigi mungil si bayi mammoth, juga bagian dada dan perutnya dimana mereka meyakini bahwa organ internal Lyuba telah berumur lebih dari 30.000 tahun. Banyak organ bagian dalamnya yang kelihatan agak rusak, diduga karena kekuatan tekanan es abadi yang menguburnya. Sel tulang di bagian kepala dan kaki depannya terlihat membentuk butiran-butiran kecil seperti mutiara, yang juga membuktikan bahwa Lyuba telah begitu lama terawetkan dalam es kutub.


Salah satu hasil CT-Scan 3 dimensi

Sampai disini, team peneliti dari Universitas Jikei Tokyo Jepang masih berusaha mengembangkan penelitian mereka lebih jauh. Terutama, karena data-data yang didapat dari hasil CT-Scan kali ini telah memberikan harapan untuk penelitian detail mengenai perbandingan gajah yang eksis sekarang di hutan-hutan Thailand dengan spesies mammoth. Bagaimana bentuk badan mammoth, cara gerak, proses perkembangannya, serta keadaan iklim dan kondisi bumi pada Zaman Es periode akhir sewaktu spesies mammoth masih hidup, untuk menguak misteri punahnya mammoth dari muka bumi ini.


Mammoth

Sekilas mengenai gajah purba ini, Mammoth yang kini telah punah dari permukaan bumi, pernah hidup pada zaman Pleistosen (sekitar 1.808.000 hingga 11.500 tahun yang lalu) dengan ukuran tubuh yang lebih besar dari jenis gajah normal yang hidup sekarang. Berat badan mammoth dewasa bisa mencapai 6-8 ton, dengan gading yang berbentuk kurva melingkar kearah dalam dan bulu yang agak panjang. Ditengah perdebatan, banyak ilmuwan yang meyakini bahwa kepunahan gajah purba ini disebabkan oleh perubahan iklim global dan perburuan oleh manusia.


Pemanasan global penyebab es abadi mencair

Isu ditemukannya Lyuba ini sejak awal dikaitkan dengan isu pemanasan global, yang memicu kekhawatiran seluruh umat manusia. Mengapa bangkai gajah purba yang terawetkan dalam lapisan es kutub tiba-tiba dapat ditemukan? Banyak ilmuwan yang meyakini, es-es abadi di benua Antartika kini mulai mencair karena kenaikan temperatur global, yang disebabkan oleh meningkatnya kadar karbondioksida (CO2) akibat polusi pembakaran minyak dan batubara yang tidak dapat diserap tumbuhan untuk dinetralkan. Menarik untuk disimak apa yang ditulis oleh pemimpin penelitian Lyuba dari universitas Jikei Jepang, Mr. Naoki Suzuki dalam website pameran mammoth ini di Tokyo Jepang:
Jika perubahan suhu bumi yang disebabkan oleh isu pemanasan global tidak separah ini, mungkin Lyuba baru akan ditemukan di abad 22, 23, atau bahkan masih jauh di masa depan. Mengapa Lyuba yang seharusnya muncul jauh di masa depan, justru muncul sekarang?”

Dalam tulisannya, beliau mengajak seluruh masyarakat untuk bersama memikirkan pesan yang terkandung dalam penemuan Lyuba, yaitu masalah pemanasan global.
“Sadarkah anda bahwa pesan yang ingin disampaikan oleh Lyuba adalah pesan dari masa depan, bukan dari masa lalu?”

Salah seorang pengunjung pameran penemuan Lyuba di pusat perbelanjaan Marunouchi Tokyo, Jepang, Satoko Mano (36) mengatakan dalam wawancaranya dengan reporter Era Baru, “Saya yakin bahwa penemuan Lyuba sangat erat kaitannya dengan isu pemanasan global. Masalah ini sudah sering diangkat di koran maupun majalah akhir-akhir ini, dan saya juga sudah merasakan efeknya sendiri seperti suhu udara yang semakin panas. Namun saat melihat sendiri Lyuba pada pameran ini……… saya merasa sedih, dan cemas. Bagaimana bisa mammoth yang terkubur dalam es begitu lama muncul dihadapan kita karena es-nya mencair? Ini benar-benar masalah yang sudah ada didepan mata.. kita harus bersama berupaya untuk menanggulanginya.

Masalah pemanasan global memang merupakan masalah yang sedang kita hadapi—hal ini menyangkut masa depan seluruh umat manusia. Manusia seringkali begitu kagum dengan majunya teknologi, menjadi tergantung dengan mesin-mesin dan komputer sampai tidak bisa hidup tanpanya. Padahal, dampak buruk yang ditimbulkan oleh teknologi tersebut sangatlah besar, seperti eksisnya polusi air, tanah, udara, disertai kenaikan suhu bumi yang semakin lama semakin tinggi. Penemuan Lyuba kali ini pun, membawa pesan sakral dari masa depan—pesan agar umat manusia mulai berpikir ulang mengenai dampak buruk teknologi, agar kita dapat memulai hidup yang lebih ramah lingkungan, lebih hijau dan alamiah.

Dilaporkan oleh reporter Era Baru dari Tokyo, Jepang.